Pages

Tesla Death Ray, Rancangan Senjata Pemusnah Masal yang Hilang

Ada rumor kalau Nikola Tesla, seorang ilmuwan misterius, memiliki rancangan sebuah senjata maha dashyat yang bisa mendefinisikan ulang arti sebuah peperangan. Namun, setelah kematiannya, rancangan itu lenyap tanpa bekas.

Nikola Tesla (1856 - 1943) mungkin adalah salah seorang ilmuwan terbesar yang pernah ada. Ia memegang sekitar 300 hak paten penemuan-penemuan yang berhubungan dengan listrik seperti dinamo, transformer, induction coil, condenser dan lampu pijar.

Dari semuanya itu, Tesla paling dikenal karena kontribusinya dalam penelitian listrik AC (Alternating Current). Karena ini juga, ia kemudian menjalani permusuhan yang sangat dalam dengan mantan atasannya, Thomas A. Edison yang memilih untuk memfokuskan diri pada listrik DC (Direct Current).

Sejak lama, nama Tesla selalu dikaitkan dengan penemuan-penemuan luar biasa yang jauh lebih maju dari zamannya. Contohnya Otis T. Carr, salah seorang insinyur yang juga anak didik Tesla, pernah membuat pernyataan mengejutkan kalau ia dan rekan satu timnya bernama Ralph Ring pernah membuat sebuah pesawat berbentuk piringan yang dengan sukses menerbangkan mereka sejauh 10 mil dengan kecepatan cahaya. Menurut Carr, ia menggunakan prinsip-prinsip yang diajarkan Tesla dalam membuat pesawat tersebut.

Selain itu, nama Tesla juga sering dikaitkan dengan peristiwa ledakan Tunguska yang maha dashyat. Ledakan itu disebut-sebut sebagai akibat dari percobaan Tesla ketika ia mentransmisikan energi listrik yang kuat dengan menggunakan menara Wardenclyffe yang dibangunnya.

Nah, apa jadinya kalau ilmuwan yang jenius dan misterius itu mengatakan kalau ia mampu membuat senjata pemusnah massal yang bisa membuat perang menjadi tidak terpikirkan oleh siapapun?

Tesla Death Ray

Semuanya bermula dari sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh ilmuwan eksentrik itu pada tahun 1938.

Kepada reporter, Tesla mengumumkan kalau ia dapat membuat sebuah senjata maha dashyat sehingga siapapun yang memilikinya akan memiliki kemenangan luar biasa di dalam setiap peperangan.

Senjata yang dimaksud Tesla itu kemudian dikenal dengan nama Tesla Death Ray, atau Sinar Kematian Tesla.

Menurut Tesla:
"Senjata ini akan mengirim pancaran partikel-partikel yang terkonsentrasi lewat udara yang akan terbang dengan kecepatan hampir menyamai kecepatan cahaya. Energinya begitu besar sehingga ia dapat merontokkan hingga 10.000 pesawat musuh dari jarak 250 mil dan dapat menyebabkan jutaan tentara musuh mati di tempat."
Senjata partikel ini melibatkan empat penemuan yang dikombinasikan menjadi satu.

Penemuan pertama adalah sebuah peralatan yang bisa meniadakan pengaruh atmosfer terhadap partikel-partikel tersebut.

Penemuan kedua adalah metode untuk menghasilkan potensi kekuatan listrik yang sangat besar.

Penemuan ketiga adalah metode untuk meningkatkan kekuatan listrik yang dihasilkan hingga mencapai 50.000.000 volts.

Penemuan keempat adalah pembuatan sebuah alat untuk melontarkan kekuatan listrik yang telah dihasilkan.

Menurut Tesla, dua dari empat penemuan diatas telah dibuat dan diujicobakan olehnya. Dua lainnya hanya membutuhkan sedikit penyempurnaan. Untuk merealisasikannya, hanya dibutuhkan dana 2 juta dolar dan 3 bulan. Jumlah ini tentu saja sangat kecil dibandingkan dengan hasil yang dapat diberikan. Jika proyek ini disetujui, maka ia akan membangun menara-menara pembangkit listrik yang berfungsi sebagai senjata tersebut di wilayah-wilayah perbatasan.


Menurut Tesla, jika pemerintah Amerika memutuskan untuk menerima penawarannya, maka ia akan segera mulai bekerja. Namun ia menuntut satu syarat. Ia ingin pemerintah sepenuhnya percaya kepadanya dan menolak adanya intervensi dari "ahli" lainnya. Ia juga mengatakan kalau rancangan lengkap senjata ini telah dibuat dan disimpan di dalam arsipnya.

Particle Beam

Kedengarannya, Tesla seperti sedang berfantasi. Namun sebenarnya tidak demikian. Pancaran partikel (particle beam) sebenarnya bukan hal yang aneh dalam dunia sains. Kita biasa menggunakan metode ini dalam kehidupan modern ini.

Pancaran partikel sebenarnya hanya sebuah pancaran cahaya yang terdiri dari berbagai gelombang elektromagnetik. Salah satu contoh penggunaannya adalah alat operasi sinar laser yang digunakan untuk mengoperasi otak.

Namun pancaran partikel yang dibicarakan oleh Tesla tentu saja memiliki level yang berbeda dibanding dengan sebuah alat operasi. Jika senjata pemusnah massal ini benar-benar bisa direalisasikan, mengapa Tesla sampai berniat menciptakannya?

Tesla ternyata memiliki cara pandang yang berbeda mengenai senjata ini.

Senjata Pemusnah Massal
Dalam pandangannya, senjata pemusnah massal ini justru bisa mencegah perang. Pada tahun ia membuat pengumuman itu, perang dunia I belum lama berakhir dan dunia sedang bersiap memasuki perang dunia II. Karena itu, Tesla memiliki ambisi besar untuk mengakhiri konflik dunia itu dan menciptakan perdamaian dunia.

Dalam salah satu suratnya, Tesla menulis:
"Selama bertahun-tahun, aku mencoba untuk mencari solusi dari masalah terberat umat manusia, yaitu bagaimana menjaga perdamaian dunia."
Mengenai Tesla Death Ray, ia mengatakan:
"Penemuan ini akan membuat perang menjadi tidak mungkin. Sinar kematian itu akan mengelilingi perbatasan setiap negara seperti tembok Cina yang tidak terlihat, hanya saja, "tembok" ini jutaan kali lebih sulit ditembus. Ini akan membuat setiap negara tidak dapat ditembus oleh pesawat musuh atau tentara darat yang menyerbu masuk."
Dengan kata lain, menurut Tesla, untuk mencegah perang kita harus mempersenjatai diri dengan sangat hebat sehingga negara lain akan mengurungkan niatnya untuk menyerang.

Namun, walaupun perang besar sudah diambang pintu, sepertinya pemerintah Amerika tidak berniat untuk merealisasikan ide Tesla. Beberapa usaha Tesla untuk menawarkan idenya ke beberapa negara lain juga diabaikan. Ketertarikan terhadap idenya runtuh dan mulai dilupakan.

Namun, ketika Tesla meninggal dunia, ingatan akan Tesla Death Ray kembali naik ke permukaan. Ini dikarenakan munculnya sebuah misteri yang cukup membingungkan.

Dokumen yang hilangPada tanggal 7 Januari 1943, Tesla meninggal di kamar hotelnya di New York di kamar 3327 di lantai 33 pada usia 86 tahun. Karena ia tidak pernah menikah, harta benda dan dokumen-dokumen pribadi yang dimilikinya diwariskan kepada keluarganya yang lain. Tidak lama setelah kematiannya, para agen dari Alien (imigran gelap) Property Custodian, departemen kehakiman Amerika Serikat, segera menyita seluruh dokumen-dokumen tersebut. Ini cukup mengherankan karena Tesla sendiri sebenarnya adalah warga negara resmi Amerika. Operasi dari Alien Property Custodian ini diakui oleh FBI dalam website resminya.

Namun misterinya tidak sampai disitu. Ketika pemerintah Amerika mengadakan pemeriksaan menyeluruh atas seluruh dokumen yang disita, mereka tidak bisa menemukan catatan mengenai rancangan Tesla Death Ray.

Dengan kata lain, rancangan senjata pemusnah massal tersebut hilang tanpa jejak.

Berita hilangnya dokumen itu telah memicu perlombaan antara Amerika, Rusia dan Jerman untuk melacak keberadaannya. Tetapi, hingga sekarang, keberadaan dokumen tersebut masih tidak diketahui.

Dimanakah dokumen-dokumen itu berada? Apakah Tesla benar-benar memiliki rancangan itu?

Dimanakah rancangan Tesla Death Ray sebenarnya?

Sebagian orang percaya kalau Tesla telah memusnahkan rancangan tersebut sebelum kematiannya karena takut jatuh ke tangan yang salah. Sebagian lagi percaya kalau orang dekat Tesla telah berhasil mengamankan rancangan tersebut sebelum disita oleh pemerintah.

Jenderal George Keegan, pensiunan kepala intelijen angkatan udara Amerika, percaya kalau rancangan itu berada di tangan pemerintah Uni Sovyet. Dugaan ini muncul karena ternyata Tesla juga mempresentasikan idenya kepada negara-negara lain.

Ketika penawarannya untuk membangun jaringan Tesla Death Ray tidak mendapatkan tanggapan dari pemerintah Amerika, Tesla menawarkan idenya kepada Inggris dengan harga 3 juta dolar. Ia berjanji akan membuat wilayah Inggris bebas dari serangan musuh hanya dalam tempo 3 bulan. Pemerintah Inggris juga tidak menggubris tawarannya. Lalu, Tesla kembali mencoba menawarkan idenya, kali ini kepada Liga Bangsa-bangsa. Usaha ini juga gagal.


Ketika pemerintah lain menganggap sepi penawaran Tesla, ketertarikan cukup besar datang dari pihak Uni Sovyet. Konon pada tahun 1937, satu tahun sebelum Tesla mengumumkan idenya ke publik, ia sebenarnya telah mempresentasikannya kepada Amtorg Trading Corporation, salah satu perusahaan perwakilan Sovyet di New York.

Dua tahun kemudian, tahun 1939, Tesla diketahui telah mengujicobakan tahap pertama idenya di hadapan pihak Sovyet. Lalu, Tesla menerima cek sebesar 25.000 dolar dari mereka. Namun proyek itu tidak pernah diselesaikan.

Ada teori kalau sesungguhnya Tesla memang tidak membangun proyek itu, melainkan hanya menjual rancangannya kepada Uni Sovyet.

Dugaan ini kembali menguat ketika Sovyet menginvasi Afghanistan tahun 1979. Rumor menyebutkan kalau pada masa perang tersebut, helikopter-helikopter Sovyet terlihat mengeluarkan cahaya aneh yang diarahkan kepada tentara Afghanistan. Mereka yang terkena cahaya tersebut tewas seketika dan mayatnya tidak membusuk hingga 30 hari.

Ketika meneliti mayat tersebut, pihak militer barat percaya kalau Sovyet mungkin telah menggunakan gas pembunuh jenis baru, namun banyak yang percaya kalau kondisi mayat tersebut adalah hasil dari senjata yang melontarkan elektromagnetik berkekuatan tinggi.

Jadi, mungkin Sovyet telah berhasil merealisasikan rancangan Tesla Death Ray dan memodifikasinya.


Foto tahun 1980 dari satelit mata-mata Amerika yang menunjukkan
kemungkinan instalasi senjata partikel Russia di Semipalatinsk


Selain teori Rusia, banyak juga yang percaya kalau sesungguhnya rancangan itu berada di tangan pemerintah Amerika Serikat serikat sendiri.

Teori ini juga punya dasar yang cukup kuat.

DARPA (Defense Advance Reasearch Project Agency), yaitu salah satu badan pemerintah yang bertujuan untuk meneliti persenjataan baru untuk militer, sesungguhnya telah melakukan percobaan senjata partikel sejak tahun 1958, 15 tahun setelah kematian Tesla. Prinsip penelitian mereka sama persis dengan ide Tesla, walaupun dalam skala yang lebih kecil.

Namun, proyek ini tidak dilanjutkan lagi karena dua alasan, yaitu karena materi-materi yang dibutuhkan oleh senjata dashyat ini dianggap "berisiko tinggi" dan karena kekuatan yang dibutuhkan untuk memproyeksikan pancaran itu melebihi kemampuan pembangkit listrik standar yang digunakan dalam perang.

Jika dua masalah ini terselesaikan, mungkin proyek ini akan dilanjutkan lagi.

Apakah ini berarti pemerintah Amerika memiliki dokumen Tesla?

Mungkin saja. Tapi bisa juga tidak. Apa yang dikembangkan oleh DARPA sama sekali tidak menyamai klaim Tesla mengenai kekuatan senjatanya. Beberapa pihak percaya kalau pihak Amerika memang memiliki dokumen tersebut, namun tidak memiliki kemampuan untuk merealisasikannya.

Selain teori Konspirasi yang melibatkan pemerintah, banyak juga yang percaya kalau rancangan Tesla Death Ray sesungguhnya tidak pernah ada. Menurut mereka, Tesla Death Ray hanyalah satu dari sekian klaim bombastis yang diberikan oleh Tesla. Walaupun tidak ada yang menyangkal jeniusnya Tesla, namun banyak proyek yang disebutkannya tidak pernah terealisasi.

Misalnya, pada tahun 1900, ia mengatakan kalau ia bisa menyembuhkan penyakit TBC dengan osilasi listrik. Pada tahun 1927, ia mengatakan kalau ia berencana untuk mengendalikan kekuatan samudera untuk dimanfaatkan. Lalu, pada tahun 1931, ia mengklaim kalau ia bisa membuat bahan bakar fosil menjadi tidak berharga lagi dengan memanfaatkan energi kosmis sebagai bahan bakar alternatif. Tentu saja klaim-klaim ini tidak pernah terealisasi.

Jadi, Tesla Death Ray bisa jadi hanyalah salah satu dari bualan Tesla yang lain.

Bahkan walaupun rancangan itu ada, bisa dimengerti mengapa pemerintah menolaknya. Ide Tesla mengenai kemungkinan terciptanya perdamaian jika senjatanya diimplementasikan sangat tidak masuk akal. Memang, sebuah negara yang memasang Tesla Death Ray akan aman dari serbuan pesawat. Namun, jelas tidak akan aman dari serangan diam-diam.

Jika saya adalah seorang pemimpin sebuah negara dan memutuskan untuk menyerang sebuah negara lain, maka yang akan saya lakukan pertama adalah mengirim pasukan penyerang secara diam-diam untuk menghancurkan Tesla Death Ray di negara tersebut terlebih dahulu sebelum mengirim skuadron pesawat tempur.

Lagipula, Tesla memiliki anggapan kalau semua pemimpin negara adalah pemimpin yang cinta damai. Ia tidak memikirkan kemungkinan digunakannya senjata tersebut sebagai alat untuk menyerang oleh seorang diktator. Jika sebuah negara memasang Tesla Death Ray dan memutuskan untuk menyerang negara tetangganya, maka mereka akan dengan sangat mudah mengarahkan senjatanya untuk menghancurkan pesawat komersial.

Dengan demikian, perang pun menjadi tidak terhindarkan.

Jadi, ide besar ini sepertinya juga memiliki cacat yang besar.

Jika saat ini, 67 tahun setelah kematian Tesla, kita masih belum melihat realisasi dari Tesla Death Ray, maka sepertinya kita harus bersyukur, dan siapapun yang menyimpan rancangan itu hingga sekarang telah berbuat kebaikan bagi dunia.

Gembok Paling Bersejarah, Yaitu Gembok Cinta

Benda apa yang mengingatkan kita akan cinta?...,Sepasang Merpati ? Bunga ? Coklat ? Atau parfum pemberian kekasih ? Semua yang disebutkan tadi sah-sah saja menjadi simbol cinta pada pasangan masing-masing. Tapi, salahkah saya bila menyebutnya itu terlalu normatif atau standar. Mari saya ajak Anda semua ke Moscow, Rusia, untuk melihat ikrar cinta dalam bentuk yang unik. 

Saban akhir pekan, tentunya di hari Sabtu dan Minggu jalanan kota Moscow selalu ramai oleh pemandangan limousine pengantin yang lalu-lalang. Warna-warni mobil mewah nan panjang ini pun bervariasi dari hitam, putih, hingga pink. Soal merk, lebih baik tidak perlu disebut, karena melihatnya saja sudah cukup membuat kita berdecak kagum. Bayangkan saja, Hummer versi limousine pun bak kacang goreng berkeliaran di kota ini.Namun saya tidak akan berbicara mengenai mobil pengantin. Sama sekali tidak. Keunikan tradisi pengantin baru di Moscow lah yang ingin saya ceritakan.


Usai melaksanakan akad nikah di gereja atau katedral, maka sepasang pengantin akan diarak ramai-ramai oleh kawan mereka menuju sebuah bukit yang terletak di seberang gedung Rektorat Moscow State University. Bukit Leninskie Gory namanya. Di bukit ini dibangun semacam trotoar yang lapang bagi para pengunjung. Dari sini kita bisa melepaskan pandangan melihat Moscow yang dipenuhi bangunan bersejarah dan tepat di bawah bukit ini terdapat Stadion Luzniky yang pernah digunakan saat Olimpiade tahun 1980 di Uni Sovyet kala itu.

Nah, dari puncak bukit Leninskie Gory pasangan pengantin selalu melepas sepasang burung merpati. Indah bukan membayangkan merpati-merpati yang terbang lepas menuju penjuru kota Moscow. Setelah itu, barulah sepasang pengantin berdansa mengikuti hentakan instrumen musik yang dibawakan kawan-kawannya. Suasana pun bertambah meriah manakala pengantin baru disoraki untuk mencium pasangannya. Wow, sungguh pemandangan yang seru.

Lepas dari bukit tadi, rombongan pengantin kemudian diarak menuju Jembatan Luzkhov, masih di kota Moscow. Nah, tibalah waktunya untuk saling berikrar menyatakan cinta pada pasangan masing-masing. Dan simbol cinta itu diwakili oleh sebuah gembok. Sekali lagi gembok. Loh kok bisa ? Ya, karena gembok-lah yang diyakini sanggup mewakili perasaan hati manakala telah bertaut. Untuk itu, pasangan pengantin akan mengukir nama mereka masing-masing di sebuah gembok yang telah dipilih untuk selanjutnya dikunci. Kunci gembok kemudian dilempar ke dalam sungai sebagai perlambang bahwa cinta sang pengantin yang telah bertaut takkan pernah lagi dapat dibuka dan abadilah cinta mereka. Romantis bukan…


Lantas kemana gembok-gembok yang telah dikunci ini akan ditaruh ? Ternyata Pemerintah Kota Moscow telah menyediakan beberapa pohon buatan yang sengaja ditanam di tengah jembatan. Pohon buatan ini terbuat dari besi yang berfungsi sebagai batang dan baja untuk dahannya. Bukan cuma satu, bahkan lima pohon terdapat di jembatan ini. Satu pohon saja sanggup digelayuti badannya oleh ribuan gembok. Bila telah penuh, maka pohon akan dipindahkan ke bagian taman dekat jembatan. Pohon buatan lain yang masih baru dan terlihat seolah meranggas karena belum digelayuti gembok, siap menggantikan keberadaan pohon lama.

Bagi pengantin lama tidak perlu khawatir. Mereka dapat mengenang kembali masa-masa indah awal pernikahan saat melintasi Jembatan Luzkhov dan mendapati gembok cinta yang masih utuh menggantung di pohon.

Tradisi gembok cinta sebenarnya tergolong baru pada masa pemerintahan Rusia, namun tak diketahui pasti kapan tepatnya. Hal yang mustahil didapat saat pemerintahan dikuasai rezim komunis. Barulah  di masa keterbukaan seperti saat sekarang, mereka bisa bebas mengekspresikan ide dan cinta mereka. Dan semua itu terwujud dalam sebuah gembok. (ysd)

Mekkah AL Mukaromah

Saat melanjutkan perjalanan dari Madinah menuju Mekkah waktu yang ditempuh mencapai 5 jam. Tibalah waktunya jamaah akan melaksanakan umroh. Untuk itu, jamaah dapat berhenti di Masjid Bir Ali guna mengambil miqot atau niat berumroh. Miqot terbagi menjadi dua, yakni  berdasarkan waktu dan tempat. Kalau menurut waktu di mulai dari awal bulan Syawal dan diakhiri pada malam 10 Dzulhijah. Dan boleh melakukan ihram, sehari sebelumnya.

Adapun berdasarkan tempat, terdapat 5 titik miqot, yakni miqot Dzul Hulaifah untuk penduduk Madinah, Miqot Al Juhfah untuk penduduk Suria,  miqot Qarn Al Manazi untuk penduduk Najd, miqot Yalamlam untuk penduduk Yaman, dan miqot Dzat Irq untuk penduduk Irak.

Bila mengambil miqot atau berniat umroh di Masjid Bir Ali maka dinamakan miqot Dzul Hulaifah. Masjid Bir Ali sebenarnya memiliki nama asli Masjid As-Syajarah atau Masjid Pohon karena masjid ini dibangun di tempat pohon yang pernah disinggahi nabi dan berteduh di bawahnya.  Jarak dari Madinah untuk mencapai Masjid ini hanya 7 kilometer. Namun jika seandainya miqot tidak dilaksanakan, maka jamaah akan mendapat dam atau denda dan umrohnya batal. Dari tempat ini pula jamaah berganti pakaian hanya mengenakan ihram.

Setelah menempuh perjalanan 5 jam, jamaah akan memasuki kota Mekkah, negeri yang paling dicintai Allah dan Rasul-Nya, serta kiblatnya kaum Muslim. Allah SWT telah menjadikan Mekkah Al Mukaromah sebagai tanah haram yang dihormati, sejak langit dan bumi diciptakan. Kota Mekkah juga dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW bahwasanya jika manusia berada di dalam tanah haram akan merasa aman. Bahkan rasa aman ini juga dimiliki oleh pepohonan dan tumbuh-tumbuhan dengan larangan memotongnya,  burung-burung pun tidak boleh diusir.

Nah, sesampainya di kota Mekkah, setelah menaruh barang-barang di kamar penginapan maka segeralah berumroh menuju Masjidil Haram. Hal ini dilakukan guna menhindari batalnya niat kita berumroh. Masjidil Haram pada awalnya masih sangat sederhana, lalu dari masa ke masa mengalami perluasan. Hingga perluasan Ibrahim terjadi pada masa pemerintahan Al Muqtadir Billah Al Abbasi pada tahun 306 Hijriyah.Sejak itu hingga lebih dari 1000 tahun,  Masjidil Haram tidak mengalami perluasan.

Barulah pada tahun 1956, secara resmi Pemerintah Kerajaan Arab Saudi melakukan perluasan. Bahkan hingga saat ini, Masjidil Haram dipercantik, diperindah dan dilengkapi segala fasilitas pendukungnya. Kini luasnya mencapai 76 ribu meter persegi.

Bagi jamaah yang melaksakan rukun umroh ataupun haji tidak lagi merasakan kesusahan atau kepanasan. Bila haus, maka cukup membawa botol kosong untuk diisikan air zam zam yang tersimpan dalam tong-tong di Masjidil Haram. Jangan khawatir pula untuk kehilangan alas kaki sepanjang kita menghapalkan dari gerbang berapa kita masuk dan menaruh alas kaki. Untuk melaksanakan sholat di dalam Masjidil Haram cukup menghadap kiblat, mengingat bangunan masjid dibuat melingkari Ka`bah. Banyak-banyaklah sholat di Masjdil Haram mengingat sabda nabi mengatakan keutamaan shalat di sini adalah 100 ribu kali pahalanya dibandingkan dengan masjid biasa. Subhanallah.


Adapun yang dinamakan Ka`bah yang bermakna kubus terletak persis di tengah-tengah Masjidil Haram di ruangan terbuka. Inilah tempat yang menjadi kiblat seluruh umat muslim di penjuru dunia. Saat melakukan tawaf atau mengelilingi Ka`bah maka usahakanlah untuk mengambil posisi dari lingkaran terluar. Hal ini dimaksudkan agar badan kita yang relatif berukuran kecil dibanding bangsa lain tidak terjepit. Barulah saat putaran kedua, ketiga, keempat, hingga kelima bisa masuk lingkaran dalam mendekat bangunan Kabah. Dan berangsur-angsur di putaran keenam dan ketujuh untuk bergerak ke lingkaran terluar agar tidak terjepit selesai melakukan tawaf.

Bagi jamaah yang hendak mencium batu Hajar Aswad, persiapkan fisik yang prima. Maklum, begitu banyak jamaah lain berebut ingin mencium batu ini. Jangan memaksakan diri bila tidak kuat. Namun jamaah juga perlu kiranya mewaspadai beberapa usaha mengambil keuntungan segolongan orang yang pura-pura menolong untuk mencium Hajar Aswad. Padahal setelah selesai, mereka akan menodong jamaah sejumlah uang dalam jumlah besar.

Kabah memiliki sisi yang cukup dipadati jamaah yakni Maqam Ibrahim. Namun artinya bukanlah kuburan Ibrahim, melainkan jejak telapak kaki Nabi Ibrahim saat membangun Kabah. Di dekat Maqam Ibrahim terdapat pula Hijir Ismail. Bentuk Hijir Ismail melengkung setengah lingkaran dari Kabah dibatasi dinding setinggi dada orang dewasa. Banyak jamaah melakukan shalat dan bermunajat di sini, mengingat Hijir Ismail disamakan bagai memasuki Kabah. Doa yang dipanjatkan, Insya Allah mustajab di sini.


Setelah selesai tawaf atau mengelilingi Kabah, maka tiba waktunya melaksakan Sai yakni berjalan diselingi lari-lari kecil antara Bukit Safa dan Marwa. Hal ini dilakukan sebagai refleksi bagaimana usaha Siti Hajar di kala itu berjuang mencari sumber air bagi Ismail, putra tercintanya.

Jangan bayangkan melaksanakan Sai melewati bukit tandus berpasir dan panas. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah membentuk Sai menjadi landasan lantai bermarmer lengkap dengan pendingin udara. Bahkan bagi jamaah jompo atau cacat disediakan pula lintasan khusus menggunakan kursi roda. Sungguh jauh sekali membandingkan penderitaan yang dirasakan Siti Hajar zaman dahulu kala.


Usai melakukan sai tujuh putaran, maka jamaah diwajibkan melakukan tahallul atau mencukur beberapa helai rambutnya. Dengan begitu selesailah umroh. Segera beristirahat di kamar penginapan bila telah merasakan kecapaian dan jangan memaksa fisik. Mengingat masih banyak ibadah yang dapat dilakukan esok hari. Bahkan bila ingin melakukan umroh, jamaah tinggal pergi keluar kota Mekkah dan mengambil miqot atau niat umroh di tempat yang ditentukan dan kembali ke Masjidil Haram untuk melaksanakan umroh. Untuk itu jamaah harus keluar ke tanah halal terdekat yakni Tan`im atau Ji`ronah. Tan`im terletak di sebelah utara Mekkah, adapun Ji`ronah berada pada 16 kilometer arah timur laut kota Mekkah.

Saat ini kawasan sekeliling Masjidil Haram sedang mengalami pembagunan besar-besaran. Dengan dikelilingi bangunan hotel dan pusat perbelanjaan, Masjidil Haram bagaikan terkepung oleh gelimang kapitalis di tanah suci. Banyak debu beterbangan di beberapa tempat yang sedang dibangun, usahakan membawa masker atau penutup mulut. Satu lagi yang cukup mengganggu di kawasan Masjidil Haram adalah keberadaan pengemis yang kemungkinan berasal dari Afrika bila melihat warna kulit mereka. Disarankan untuk menjauhi para pengemis agar tidak terkena tindak kriminalitas, meski bukan berarti jamaah tidak perlu mengeluarkan sedekah.


Beberapa tempat di kota Mekkah sering dijadikan lokasi favorit wisata religi. Di antaranya adalah Jabal Tsur yakni bukit dimana Nabi Muhammad SAW bersama sahabatnya Abu Bakar bersembunyi saat akan hijrah dari pengejaran kaum kafir. Atas kuasa Allah SWT maka pintu gua dihalangi sarang burung dan juga sarang laba-laba.  Maka selamatlah nabi bersama sahabatnya dari kejaran kaum Quraisy. Untuk menuju lokasi, hanya berjarak 6 kilometer dari Masjidil Haram. Namun butuh waktu 2 hingga 3 jam bila jamaah ingin mendaki hingga puncak Jabal Tsur.

Lokasi favorit berikutnya adalah Jabal Rahmah, yaitu tempat dimana Nabi Adam AS bertemu kembali denga Siti Hawa setelah turun dari Surga ke Bumi dan berpisah 100 tahun lamanya.

Di Jabal Rahmah pula, Rasulullah membacakan khutbah wada’ atau khutbah perpisahan. Di sini pula, Rasulullah menerima wahyu terakhir yaitu Surat Al Maidah. Kala itu, sahabat nabi  Abu Bakar menangis. Ia menyadari dan tahu bahwa khutbah wada’ nabi merupakan pertanda akhir perjuangan Rasulullah dan akan segera berpisah dengan umat Islam.

Sayangnya, nilai keskralan tempat ini sudah pudar. Banyak pedagang kaki lima, semrawut berjualan di sini. Bahkan pengemis dan gelandangan memenuhi anak tangga menuju Tugu Jabal Rahmah. Tugu yang menjadi pertanda tempat bertemunya Adam dan Hawa pun penuh dengan coretan coretan. Jabal Rahmah sendiri bermakna bukit kasih sayang. Tak heran jika banyak orang yang menuliskan nama pasangannya, berharap dipertemukan atau dijodohkan seperti Adam dan Hawa.


Orang-orang dari berbagai bangsa juga tak menyia-nyiakan untuk berdoa di sini. Mereka berharap do’anya dikabulkan karena diyakini tempat ini makbul untuk berdoa.

Tidak jauh dari Jabal Rahmah, jamaah bisa mengunjungi Padang Arafah. Di tempat ini saat musim haji tiba dipenuhi jamaah yang berkumpul singgah sebentar. Riwayat mengatakan di sinilah tempat dikumpulkannya seluruh anak manusia di hari kiamat.

Arafah berjarak sekitar 25 kilometer sebelah timur kota Mekkah. Luasnya sekitar 8 kilometer persegi. Dahulu Padang Arafah terkenal tandus. Namun Padang Arafah  terlihat menghijau berkat tanaman mirip Pohon Mindi. Di sini  populer dengan sebutan ‘Pohon Soekarno’ untuk menghormati Presiden Indonesia pertama yang mengusulkan penghijauan Arafah. Soekarno juga menyediakan ribuan bibit pohon ini dan ahli pertanian untuk penanamannya di Arafah. 


Sekarang waktunya melanjutkan wisata religi ke daerah Hudaibiyah. Di sini terdapat Masjid Hudaibiyah. Rasulullah pernah membuat perjanjian Hudaibiyah dengan kaum musyrikin. Sayang, situsnya kini menjadi puin-puing dan banyak coretan dimana-mana.

Kisah Hudaibiyah berawal di tahun 628 Masehi. Kala itu Rasulullah bersama 1400 muslim Madinah menuju Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Namun kaum Quraisy menyiagakan pasukan untuk menahan rombongan Rasulullah agar tidak masuk ke Mekkah. Rasulullah mengambil jalan damai dengan kaum Quraisy yang kemudian dikenal dengan Perjanjian Hudaibiyah.

Isi Perjanjian Hudaibiyah  antara lain : tidak ada peperangan dalam jangka waktu 10 tahun, dan siapapun yang ingin mengikuti Rasulullah diberi kebebasan. Begitu pula siapa pun yang ingin mengikuti kaum Quraisy diperbolehkan secara bebas.

Untuk mengenang jejak Nabi Muhammad SAW di tempat ini, maka dibangunlah Masjid Ji’ronah atau lebih dikenal sebagai Masjid Hudaibiyah. Nabi pernah menginap di Masjid Ji’ronah selama 13 hari. Ji’ronnah merupakan tempat miqot paling afdhal bagi penduduk Mekkah, bahkan nabi pun pernah berihram disini. Jadi jangan lupa membawa ihrom untuk berumroh kembali sesampainya di Mekkah.  

Mash di kawasan Hudaibiyah terdapat beberapa peternakan onta, berada di tanah tandus dan kering. umumnya  peternaka ini dimiliki pendatang dari Sudan dan dipelihara musiman. Seorang peternak hanya memelihara selama 2 bulan untuk bergantian dengan peternak lain.

Satu peternakan bisa terdapat sekitar 10 sampai 15 onta betina. Yang jantan, cukup seekor saja dan harus dipisah agar tidak tergoda onta betina melulu. Seluruh bagian tubuh onta banyak manfaatnya. Bahkan air kecingnya saja dipercaya berkhasiat menyembuhkan penyakit mata.
Onta berpunuk satu yang nama Latinnya, Camelus dromedarus, dipelihara untuk diambil susunya. Biasanya diperas pagi dan sore hari. Satu onta betina mampu menghasilkan susu sebanyak 3 sampai 5 botol gelas air mineral kecil. Sebotol air mineral dihargai 5 riyal.

Di bulan Ramadhan, susu onta menjadi minuman khas untuk sahur dan berbuka. Rasanya tidak afdol puasanya tanpa minum susu onta. Penduduk Arab dan beberapa negara seperti Sudan, India, dan Arab Saudi juga mempercayai khasiat obat yang terkandung dalam susu onta. Cara minumnya praktis, tidak perlu direbus, begitu diperas bisa langsung diminum.

Bahkan ternyata buih susu onta juga punya manfaat. Menghaluskan kulit muka, apalagi di siang hari yang terik, mengoleskan buih susu onta ke muka terasa sejuk dan segar.

Satu lagi wisata religi yang sayang bila dilewatkan adalah ziarah makam. Pemakaman kuno yang sudah ada sejak jaman Rasulullah SAW terletak di kawasan Jummayzah, sekitar 1 kilometer ke arah utara kota Mekkah. Nama lengkap pemakaman, Jannatul Ma’la, dimana orang biasa menyebutnya hanya dengan Ma`la.  

Area pemakaman ini dibuat di masa jahiliyah dan setelah datangnya Islam. Area di sekitar pemakaman di masa lalu dijadikan salah satu jalur Nabi Muhammad memasuki Mekkah saat penaklukkan Mekkah. Ma’la berarti dataran tinggi.

Di pemakaman inilah, diyakini keluarga besar Bani Hasyim, trah keluarga Rasulullah dimakamkan. Antara lain Siti Khadijah istri Rasulullah, meskipun tidak ada bukti Khadijah dimakamkan disini. Beberapa lagi di antaranya adalah Qasim bin Muhamm, anak Rasulullah. Abu Muthalib, kakek rasulullah dan abu thalib,  paman Rasulullah,  serta para sahabat diyakini dimakamkan disini.

Makam kuno Ma’la termasuk tujuan favorit wisata ziarah jamah haji dan umroh dari berbagai negara, tentu tak melewatkan kesempatan ziarah kesini Meskipun area pemakaman, tetap dimanfaatkan penduduk untuk mengasi rejeki dengan berjualan keliling.

Kini pemakaman kuno Ma’la dijadikan pemakaman umum. Termasuk jama’ah haji Indonesia, sebagian ada yang dimakamkan di sini. Wafat di tanah suci berarti berada di shaf terdepan di alam barzah nanti.

Sistem pemakaman di sini, satu lubang bisa diisi beberapa jasad dan digunakan beberapa kali. Tdak boleh ada nama yang diukir di nisan.cukup ditandai itandai dengan batu. Tata cara ini juga berlaku untuk raja-raja Saudi.

Demikianlah sekelimit cerita tentang umroh dan lokasi-lokasi wisata religi favorit telah dipaparkan di sini. Semoga bisa menjadi pahal bagi kita semua. Amin.

Kubah Yang Menakjubkan di Moscow Rusia

Apa bukti bahwa Anda pernah datang ke Moscow, Rusia ? Jika pertanyaan ini diajukan bagi setiap orang yang pernah berkunjung ke Lapangan Merah atau Red Square di Moscow, maka jawabannya adalah 100% berfoto dengan latar belakang St.Basil Cathedral. Boleh dibilang, inilah simbol kota Moscow bahkan Rusia.

Katedral yang dibangun antara tahun 1555 hingga 1561 ini memang merupakan salah satu objek wisata favorit bagi wisatawan. Bahkan stasiun televisi setempat ataupun para pembuat film sangat sering menjadikan katedral ini sebagai latar belakang pengambilan gambar mereka.


Adalah Ivan The Terrible, julukan yang cukup seram dari penguasa atau Tsar Rusia kala itu yang memerintahkan dibangunnya katedral ortodoks ini. Alasan pembangunan untuk menandai kemenangan bangsa Rusia atas penaklukan Kazan yang dikuasai Bangsa Tartar-Mongol tahun 1552.

Apabila kita perhatikan kubah menjulang pada katedral bagaikan kubah masjid. Hanya bedanya, di atas kubah terdapat tanda salib. Konon menurut cerita, ini merupakan simbol penaklukan Kristen Orthodoks ketika itu atas Islam. Kazan sendiri merupakan basis kaum muslim dan belum tergabung dalam Rusia. Itu sebabnya kubah masjid di Kazan menginspirasi pembangunan kubah serupa di katedral St.Basil. Dengan aneka warna-warni, menjadikan kubah sedap dipandang mata, bahkan ada yang mirip buah durian.


Nama asli katedral sesungguhnya adalah Cathedral of the Intercession of the Virgin on The Moat. Namun orang lebih mengenalnya dengan sebutan St. Basil Cathedral. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan atas seorang yang dianggap suci dan diberkati yaitu Vasily atau Basil the Blessed. Makamnya sendiri bisa kita temui di gereja kesepuluh yang terdapat dalam katedral.


Lantas siapa sesungguhnya yang menjadi arsitek katedral nan cantik ini ? Adalah Barma dan Postnik Yakovlek orang Rusia yang berada di balik pembangunannya. Sayangnya menurut cerita, kedua mata mereka dibutakan oleh sang penguasa untuk mencegah agar tidak dapat lagi membuat bangunan yang dapat menandingi keindahan St.Basil Cathedral. Miris.


Katedral ini sendiri telah menjadi museum bagi siapapun yang ingin berkunjung setiap hari, kecuali Selasa. Waktunya mulai pukul 11 siang hingga 6 sore. Dan cukup dengan 150 rubel atau hampir 50 ribu rupiah, kita dapat melihat bagian dalam katedral yang cukup artistik. Jangan lupa pula untuk membayar tiket tambahan bila kita membawa kamera foto atau video untuk mengabadikan interior katedral. Apabila sudah di dalam, rasakan sendiri sensasi manakala kita mendaki tangga kayu atau berjalan melalui lorong sempit untuk memasuki ruang demi ruang gereja. Dan dari dalam bangunan ini pula kita bisa melemparkan pandangan mata pada Lapangan Merah yang dikelilingi oleh bangunan bersejarah dan kota Moscow tentunya.
Berterima kasihlah kita pada Pyotr Baranovsky atas kegigihannya menentang Stalin (penguasa Uni Sovyet kala itu) yang berencana membongkar bangunan bersejarah St.Basil Cathedral. Meski untuk itu Baranovsky harus menebusnya dengan hukuman penjara lima tahun pada warsa tahun 30-an. Bila tidak, apa lagi bukti bahwa kita pernah datang ke Moscow dan berfoto di depan katedral ini…

Gaya Jual Es Krim Paling Unik di Dunia

Berikut ini adalah gaya Penjual Es Krim Paling Unik di dunia, nama Es krimnya Es Krim Ali Baba, Es Krim ini cuma ada di Istanbul Turki. CheckinProoot Gan.. !!!


Suwandi Chow dipermainkan Tukang Es Krim Turki:

Berikut Yulika Satria Daya Juga di Permainkan Tukang Ice Krem Ali Baba:

10 Bangunan Terbesar di Dunia

1.     Dubai International Airport Teminal 3
Pada bangunan ini terdapat 157 buah lift, 97 eskalator, 180 loket check-in, 2600 areal parkir dan luas lantai yang mencapai 1.500.000 m2.
 

2.  Aaalsmer Flower Auction, Jerman
Setiap harinya, hampir bunga dari seluruh dunia diperdagangkan disini. Luas lantainya sekitar 990.000 m2.




3.  Beijing Capital International Airport, China
Pada tahun 2008, bandara ini merupakan tempat dengan aktivitas tersibuk di dunia ke-8. Bandara terbesar kedua di dunia ini memiliki luas lantai sebesar 986.000 m2.


4. The Venetian, China
Bangunan yang terdapat di Macau ini di dalamnya terdiri dari 40 lantai, hotel mewah dan tempat perjudian. Luas lantai mencapai 980.000 m2.


5. ATL Logistic Center, Hongkong
Bangunan ini merupakan pusat penyediaan logistik se-Asia. Luas lantainya mencapai 864.000 m2.


6.   Berjaya Times Square, Malaysia
Berjaya Times Square adalah komplek multi-tujuan berskala besar yang berisi pusat perbelanjaan, dua hotel berbintang lima, taman hiburan indoor, tempat tinggal dan kantor. Bangunan ini memiliki luas lantai 700.000 m2.


7. The Palazzo, USA
Merupakan salah satu hotel mewah dan tempat perjudian terbesar di Las Vegas. Luas lantainya mencapai 645.581 m2.


8.  The Pentagon, USA
Pentagon merupakan pusat Kementrian Pertahanan Amerika Serikat. Pentagon merupakan gedung perkantoran terbesar di dunia, dengan luas 610.000 m2.


9. K-25, USA
Merupakan tempat pelaksanaan proyek pengembangan Uranium. Bangunan ini didirikan pada tahun 1945 dan menghabiskan biaya 512 juta Dollar. Luasnya mencapai 609.000 m2.


10.   Hongkong International Airport, China
Merupakan salah satu bandara tersibuk di dunia. Bangunan yang dindingnya terbuat dari kaca ini memiliki luas 570.000 m2. (Bagi mahasiswa SIL yang ingin mengetahui bagaimana proses pembuatan Hongkong International Airport, silahkan minta videonya ke admin. Mahasiswa SIL disarankan menonton video ini.)

Sejarah Nama Makasar di Afrika Selatan

Makassar yang selama ini kita kenal ada di Sulawesi Selatan, tapi ternyata ada Macassar Afrika Selatan. Secara sengaja Saya menemukan referensi tentang Macassar yang ada Afrika Selatan itu ketika searching tentang Syekh Yusuf Al Makassari, perintis pendiri dan tonggak sejarah penyemaian Islam di benua hitam, Afrika Selatan tempat perhelatan Piala Dunia 2010 digelar. Di Macassar, ada sebuah tempat yang dinamakan “The Kramat”. The Holy Resting Place of Sheikh Yusuf Al Makassari, semacam kampung atau perkampungan Makassar (dibaca dalam bahasa Indonesia) di Afrika Selatan.
Kramat Macassar Tempat Makam Syekh Yusuf Al Makassari 
“Here at this peaceful place on the hill overlooking Macassar, we come to honour the founder of Islam in South Africa”.
Demikian pendapat dari pendirian dan pemilik website macassar.co.za,  sebuah pengakuan tulus atas penghargaan yang tinggi kepada Syekh Yusuf Al Makassari. Konon, di Macassar, Syekh Yusuf dimakamkan, sementara di Makassar Sulawesi Selatan juga ada Makam Syeh Yusuf Al Makassari.


Sejarawan Prof Anhar Gonggong bahkan pernah menyatakan bahwa Makam Syekh Yusuf Al Makassari  sebenarnya ada di Lakiung, daerah perbatasan Kota Makassar dengan Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan. Sayang, pada saat Terbang Ke Makassar, Saya tidak sempat berziarah ke makam Syekh Yusuf dan tidak sempat bertemu dengan Pancallok yang blognya terus kebanjiran trafik.

Saksi Bisu Kekejaman Rezim Khmer Merah di Phnom Penh Cambodia

Ketika tahu akan berkunjung ke Kota Phnom Penh, Kamboja salah satu tempat yang saya niatkan untuk didatangi adalah Museum Genosida Tuol Sleng, sebuah museum yang menyimpan kenangan dan gambaran drama terkeji dan paling biadab dalam sejarah tragedi kemanusiaan di benua Asia. Sebelumnya saya hanya tahu cerita seputar museum ini dari informasi foto dan video yang ada di internet. Kesempatan untuk bisa berkunjung langsung ke lokasi museum tersebut tentunya tidak saya sia-siakan. Beruntungnya rekan kerja saya di Phnom Penh bersedia mewujudkan rasa ingin tahu saya tersebut.
Minggu, 9 Mei 2010, di hari kedua kunjungan saya di Kota Phnom Penh, menumpang motor rekan kerja, berangkatlah kami menuju lokasi Museum Genosida Tuol Sleng.  Supaya nyaman kami putuskan meluncur agak pagi, maklum… ketika saya disana cuaca di Kota Phnom Penh sangat panas, di siang hari bisa mencapai 40 – 45 derajat celcius, sementara di malam hari mencapai 33 – 35 derajat celcius. Namun keputusan berangkat agak pagi tersebut tidak senyaman yang dibayangkan. Cuaca kering dan panas tetap saja kami rasakan.
Setelah menempuh lebih kurang setengah jam perjalanan dari hotel tempat saya menginap, Khmeroyal Hotel, kami akhirnya sampai di lokasi museum. Dari luar, kesan pertama terhadap bangunan museum ini layaknya sebuah areal sekolah. Kesan angker mulai terasa ketika kita melihat keberadaan kawat berduri yang sudah berkarat terpasang pada tembok pembatas setinggi dua meter yang melingkari areal bangunan. Di pintu gerbang, kita akan disambut beberapa pengemis cacat. Tanpa ingin berpikiran negatif, terlihat sekali jika para pengemis tersebut memanfaatkan keadaan. Untuk menarik simpatik dan belas kasihan (terutama kepada turis asing), mereka mengaku sebagai bekas korban perang.
Kami memarkir motor di bagian dalam, tepat disisi kiri tempat pembelian karcis masuk. Sebelum berangkat, rekan saya memberitahu bahwa untuk masuk areal museum tersebut kita harus membeli karcis masuk senilai 2 dollar. Hal ini tidak berlaku bagi penduduk lokal, mereka dibebaskan alias tidak membayar. Berdasarkan info tersebut, saya sengaja menyiapkan uang pecahan senilai 4 dolar, artinya untuk membeli karcis masuk dua orang. Namun begitu melewati bagian loket pembelian karcis kami tidak ditagih layaknya beberapa turis asing. Saya heran dan bertanya ke rekan di sebelah. Sambil tersenyum dia menjawab artinya wajah kami sudah dianggap sebagai penduduk asli, ditambah lagi kami datang dengan mengendarai sepeda motor bernomor kendaraan setempat. Mendengar hal tersebut, saya tertawa lepas dan menerima saja keadaan tersebut tanpa harus membahasnya lebih panjang.
Dari tulisan yang tertera di bagian masuk setidaknya menjawab kesan pertama yang saya rasakan tadi. Ternyata benar, awalnya museum ini adalah merupakan bangunan sekolah menengah atas bernama Ponhea Yat. Semasa pemerintahan Lon Nol, nama sekolah diubah menjadi Tuol Svay Prey High School. Setelah kekuasaan di Kamboja jatuh ke tangan Pol Pot, pada tahun 1975 sekolah ini diubah menjadi sebuah penjara tempat interogasi dan penyiksaan tahanan yang dituduh sebagai musuh politik Khmer Merah. Pada masa itu, penjara ini merupakan penjara terbesar di Kamboja dengan tembok seng berlapis dan dilingkari kawat berduri yang padat. Penjara ini dikenal dengan sandi rahasia “S. 21″ (Security Office 21). Jika dari depan, bangunan museum ini (yang juga sebagai bangunan penjara) berbentuk huruf U dan memiliki empat gedung. Masing-masing gedung terdiri dari tiga lantai.
Mengapa saya tertarik mengulas cerita mengenai apa yang terjadi di dalam museum ini. Sebelumnya mohon maaf jika nanti dalam pemaparan ada beberapa bagian kalimat terbaca vulgar dalam menggambarkan kesadisan penyiksaan yang dialami oleh para tahanan. Seperti yang disinggung di bagian depan, pada perjalanannya museum yang asal mulanya bangunan penjara ini tidak hanya dijadikan tempat penyiksaan tahanan dari luar kamboja saja, tetapi juga penduduk setempat. Sehingga cukup beralasan jika kemudian apa yang dilakukan oleh Rezim Pol Pot ini dianggap sebagai tragedi kemanusiaan paling keji dan biadab di benua asia.
Apa yang dilakukan oleh para penjaga penjara yang juga adalah serdadu Khmer Merah jauh di luar ambang waras pikiran manusia normal, brutal, keji dan biadab. Para serdadu penjaga penjara dan juga pengurus penjara ini berhasil dicuci otaknya untuk menyiksa dan membunuh tahanan dengan tanpa rasa bersalah dan penyesalan sedikitpun. Bahkan diantara para tahanan tersebut adalah orang tua dan saudara kandung mereka sendiri.
Dari lokasi gapura tulisan pengenalan tentang museum tadi, kami berjalan ke sisi kiri, menuju Gedung A. Pada halaman depan kita disambut dengan 14 kuburan tanpa nama. Dari tulisan yang terpampang kita bisa mengetahui bahwa ini adalah kuburan 14 mayat korban terakhir yang ditemukan oleh tentara Kamboja di Gedung A dan disiksa dan dibunuh oleh penjaga penjara, sebelum para penjaga tersebut melarikan diri. Salah satu dari korban tersebut adalah seorang wanita.
Di halaman depan Gedung A ini juga terpajang semacam tugu kecil yang berisikan informasi aturan bagi para tahanan (security regulation). Secara apa adanya, isi aturan tersebut adalah demikian: (1) You must answer accordingly to my questions, don’t turn them away, (2) Don’t try to hide the facts by making pretexs this and that. You area stricly prohibited to contest me, (3) Don’t be a fool for you are chap who dare to thwart the revolution, (4) You must immediately answer my questions without wasting time to reflect, (5) Don’t tell me either about your immoralities of the essence of the revolution, (6) While getting lashes or electrification you must no cry at all, (7) Do Nothing, sit still and wait for my orders. If there is no order, keep quiet. When I ask you do to something, you must do it right away without protesting, (8) Don’t make pretexts about Kampuchea Krom in order to hide your jaw of traitor, (9) If you don’t follow all the above rules, you shall get many many lashes of electric wire, (10) If you disobey and point of my regulations you shall get either ten lashes or five shocks of electric discharge. Waw!! serangkaian aturan yang menyeramkan.
Perasaan seram mulai membayangi manakala kita memasuki ruangan di lantai satu Gedung A tersebut. Pada setiap ruangan kita akan menemukan tempat tidur besi lengkap dengan batangan dan kalung kaki besi serta satu kotak terbuat dari seng. Sementara di dinding terpajang sebuah figura foto asli salah seorang korban yang disiksa di atas tempat tidur tersebut. Di atas tempat tidur inilah para tahanan dipukul dan disiksa dengan benda tumpul selain senjata. Saya tidak mau berlama-lama di ruangan tersebut. Melihat dan memotret foto korban dan tempat tidur besi itu saja sudah membuat saya merinding, apalagi untuk membayangkannya.
Keluar dari ruangan ini, ada bagian yang menarik perhatian saya di halaman muka gedung, tepatnya di depan Gedung B, sebuah tiang berbentuk gawang yang tingginya sekitar 6 atau 7 meter. Di bagian kayu yang memalang terdapat dua cincin pengait besi dipasang berjejer, sementara di bagian tanah sejajar dengan masing-masing cincin pengait tersebut diletakkan dua tong besar. Dari penjelasan yang saya peroleh, tiang gawang ini merupakan salah satu tempat yang digunakan untuk penyiksaan. Para tahanan digantung dengan posisi kepala di bawah, tangan dan kaki diikat. Pada bagian kaki diikat dengan tali tambang dengan satu bagian ujung tali dipegang dan ditarik oleh penjaga. Pada posisi sedemikian para tahanan ini diturunkan sampai bagian kepala hingga dadanya masuk ke dalam tong besar yang sudah diisi dengan air, didiamkan beberapa saat lalu ditarik kembali ke atas. Hal ini dilakukan berulang sampai tahanan tersebut lemas dan bahkan meninggal.  Mmmmm……
Dari sini kami masuk ke ruangan di lantai satu Gedung B. Pada ruangan pertama yang saya masuki terdapat sebuah lemari kaca berisi penuh pakaian. Pakaian tersebut adalah pakaian yang dikenakan oleh para tahanan yang menghuni penjara. Tampak jelas jika pakaian yang tertumpuk begitu saja tersebut sangat kotor dan usang, kotor karena bercampur debu, tanah, dan mungkin darah, usang karena ditelan usia.
Pada ruangan yang sama dan ruangan berikutnya membuat saya tertegun. Begitu banyak foto hitam putih yang terpajang dan tersusun rapi dalam bingkai kaca. Ekspresi wajah yang terdapat dalam foto-foto tersebut menggambarkan keputusasaan, ketakutan dan kepasrahan. Inilah dokumentasi foto asli para tahanan yang ditemukan kemudian. Foto-foto ini dibuat oleh penjaga dan pengurus penjara saat proses interogasi atau setelah penyiksaan. Artinya pemotretan ini memang sudah disiapkan. Bahkan setiap foto tahanan dilengkapi dengan penomoran.
Sambil sesekali memotret, saya mendengarkan penjelasan seorang guide yang sedang membawa serombongan turis. Menurut penjelasannya, setelah dipotret para tahanan dibunuh secara keji tidak dengan peluru, melainkan dengan benda tumpul atau (mohon maaf) yang paling banyak dengan cara disembelih atau di tusuk dengan bayonet.  Entah setan apa yang merasuki serdadu penjaga penjara tersebut, yang pasti mereka lebih senang melihat tahanan disiksa pelan-pelan ketimbang langsung ditembak mati.
Pada satu ruangan, langkah saya terhenti di depan dua buah bingkai foto berukuran besar yang memperlihatkan seorang perempuan sedang duduk dikursi sambil memangku bayinya yang masih merah. Satu foto dari arah samping dan yang satu lagi foto dari arah depan. Dari keterangan yang tertulis di bingkai dapat kita ketahui bahwa perempuan di foto tersebut adalah istri salah seorang bekas menteri rejim Khmer Merah yang oleh Pol Pot dianggap telah mengkhianatinya. Jelas sekali bahwa perempuan malang tersebut memendam rasa putus asa, ketakutan dan kepasrahan atas nasib dirinya dan bayi mungilnya.
Dengan sedikit keberanian, saya arahkan kamera digital ke arah foto perempuan malang tersebut pada posenya yang menyamping. Dari sini lah baru saya sadar. Perempuan malang tersebut tidak hanya sekedar duduk di sembarang kursi. Kursi tersebut adalah kursi penyiksaan. Di bagian belakang kepala perempuan tersebut dipasang mata bor kecil dan runcing, dan…maaf… dengan cara itulah dia disiksa hingga tewas. Menyaksikan hal tersebut, bulu roma saya langsung merinding. Niat untuk mengambil gambar pada fosenya yang dari depan saya urungkan. Secara bergantian bola mata saya menatap wajah perempuan dan bayi dalam pangkuannya. Teringat wajah isteri dan anak saya di tanah air. Emosi saya bermain, hampir saja saya menangis, membayangkan rasa sakit yang dialami perempuan malang tersebut.
Dari sedikit mendengar penjelasan guide yang memandu serombongan turis tadi disebutkan bahwa mereka yang pernah ditahan di penjara ini ada sekitar 15.000 orang. Dari jumlah tersebut, tak lebih dari tujuh orang yang selamat, selebihnya dibantai.  Mereka berasal dari berbagai profesi yang oleh rezim Khmer Merah dianggap membahayakan. Seperti diantaranya adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi, termasuk guru-guru, dosen dan professor, mereka yang duduk dalam pemerintahan sebelumnya, kemudian mereka yang punya hubungan dengan orang-orang Barat, juga mereka yang bisa berbahasa Inggris. Lebih gila lagi adalah yang diburu dan dibunuh tidak hanya individu dari masing-masing orang, tapi juga seluruh anggota keluarganya.
Saya jadi bertanya, apa sebenarnya yang menjadi tujuan Rezim Pol Pot dengan perlakuan yang maha keji tersebut. Penjelasan selanjutnya dari guide tersebut sedikit menjawab. Pol pot ternyata ingin membentuk pemerintahan dari “nol”, dimana rakyat yang dipimpinnya dapat menerima nilai-nilai baru yang ingin ditanamkan tanpa banyak bertanya ataupun melawan. Untuk mencapai tujuan tersebut maka siapapun yang dianggap berbahaya dan akan membahayakan kekuasaannya harus dibasmi.
Saya melanjutkan ke sisi lain ruangan. Di ruangan ini terdapat beberapa foto tengkorak dan tulang belulang manusia. Disini terdapat juga susunan batang dan cincin/gelang besi. Konon, oleh pengurus penjara, ruangan yang berukuran sekitar 6 x 10 m ini disulap menjadi ruang tahanan massal bagi tahanan pria. Para tahanan ditempatkan berjajar, diikat kakinya dengan sebatang besi dan kemudian dikunci ke gelang besi yang dicor ke lantai. Ruang gerak untuk tiap tahanan adalah sepanjang tubuh mereka sendiri pada posisi berbaring. Salah seorang dari tujuh tahanan yang masih hidup dan ikut memberikan penjelasan memperagakan bagaimana posisi para tahanan yang ditahan diruangan ini.
Keluar dari ruangan tersebut, saya menghirup dan menarik nafas dalam untuk melanjutkan perjalanan ke gedung berikutnya, Gedung C. Memang dibutuhkan keberanian dan kesiapan mental untuk dapat menyaksikan bukti-bukti yang terpajang dan mendengarkan penjelasan tentang apa yang terjadi di museum bekas penjara ini.
Kondisi fisik Gedung C tidak ubahnya dengan dua bangunan gedung sebelumnya, tua dan usang. Bedanya, di bagian depan pada masing-masing tingkat dari gedung ini dibalut rapat dengan kawat berduri. Kawat berduri ini dipasang supaya para tahanan tidak melarikan diri dan juga tidak meloncat untuk bunuh diri. Ya, bunuh diri. Ternyata ada juga tahanan yang berpikir lebih baik mati dengan cara bunuh diri daripada disiksa secara pelan-pelan. Meskipun tidak benar, setidaknya mereka tidak mengalami pesakitan dari serangkaian proses penyiksaan yang harus diterima.
Memasuki lantai satu dari gedung ini kita akan dihadapkan pada ruangan yang dibagi dalam sel-sel kecil. Dalam ruangan berukuran sekitar 6 x 10 m tersebut dibagi menjadi 10 sel-sel kecil dengan ukuran 1 x 2 m, tanpa pintu. Pada masing-masing dinding diberi nomor. Dari penjelasan yang saya dengar, sel-sel ini dibuat untuk para tahanan perempuan, berikut bayi atau anak balitanya (bagi tahanan yang mempunyai bayi atau balita).
Saya memberanikan diri melongok ke dalam salah satu sel. Bau pengab dan tidak sedap tercium. Mungkin ini hanya sugesti saya lantaran terbawa emosi membayangkan suasana penghuni sel tersebut kala dulu. Didalamnya saya menemukan satu kotak kaleng kecil yang sudah berkarat dan rantai besi yang satu ujungnya dicor dilantai. Saya baru tahu jika rantai tersebut digunakan untuk mengikat kaki para tahanan. Lalu bagaimana kalau para tahanan ingin buang air kecil atau pun besar? Ternyata kotak kaleng kecil tadi disediakan untuk maksud diatas. Wuih, dalam hitungan hari, minggu dan mungkin bulan, kebayang bagaimana kondisinya. Namun umumnya tahanan disini tidak akan bertahan sampai berbulan-bulan, karena akan dibunuh oleh para penjaga.
Selain siksaan, dari sisi asupan makanan dan minuman ternyata tidak kalah sadisnya. Para tahanan diperlakukan sangat amat tidak manusiawi. Coba bayangkan, setiap hari mereka hanya mendapatkan semangkuk bubur nasi encer dan sedikit air minum. Air minum ini pun diberikan dengan cara langsung dituangkan ke dalam mulut mereka. Pantas saja dari tadi saya perhatikan difoto yang terpajang jika kondisi tubuh para tahanan ini kurus kering sampai hanya kelihatan lekuk tulang belulangnya saja.
Saya kemudian beranjak ke Gedung D, gedung terakhir dari keseluruhan bangunan museum. Di dalam gedung ini kita masih tersimpan beberapa alat dan sarana penyiksaan yang digunakan oleh penjaga dan pengurus penjara dan juga serangkaian lukisan tangan yang menggambarkan wujud penyiksaan untuk masing-masing peralatan penyiksaan yang pamerkan. Beberapa foto hitam putih tahanan juga masih bisa kita temukan disini.
Satu per satu ruangan saya jelajahi. Di ruangan pertama, kita dapat melihat langsung wujud kursi bor batok kepala. Disini kita kembali menemukan foto perempuan malang dengan bayi dipangkuannya sebagaimana yang sudah diceritakan di depan. Meskipun sudah usang, kursi penyiksaan itu masih tersimpan rapi di lemari kaca.
Pada ruangan berikutnya kita dapat melihat beberapa alat penyiksaan dan serangkaian lukisan yang dibuat untuk menggambarkan kondisi tahanan yang sebenarnya saat disiksa dengan alat tersebut. Untuk memotret kembali lukisan-lukisan tersebut saya sendiri rasanya tidak tega, hanya beberapa yang berani saya abadikan kembali. Karena begitu sadisnya rekonstruksi yang digambarkan pada setiap lukisan. Ada lukisan yang menggambarkan seorang tahanan tanpa pakaian dengan mata ditutup kain hitam dan kondisi badan tinggal tulang diikat pada sebatang kayu dan dipanggul oleh dua serdadu layaknya memanggul kambing yang akan disembelih atau dikuliti. Tidak tahu persis, apakah tahanan tersebut masih hidup atau sudah dalam kondisi meninggal.
Ada juga lukisan yang menggambarkan seorang ibu yang merayap di lantai dan meratapi bayinya yang sedang direbut oleh seorang serdadu penjaga penjara. Sang penjaga tidak menghiraukan ratap tangis sang ibu dan juga bayi yang sedang diperebutkan. Nasib bayi tersebut sangat tragis. Pada lukisan lain digambarkan dengan jelas bagimana nasib bayi tersebut. Bayi itu oleh penjaga di lempar ke atas dan saat tubuh bayi itu melayang turun, tubuh lembut bayi itu disambut dengan, sekali lagi mohon maaf…, tusukan bayonet yang merobek-robek tubuh mungilnya. Pada lukisan lain menggambarkan tumpukan mayat bayi dan anak kecil yang bersimbah darah dan dijejer seperti ikan. Tampak terlihat bagaimana para penjaga dengan tangan dingin mereka melempar dan mengatur jejeran mayat tersebut.
Di bagian ruangan berikutnya kita juga bisa melihat lukisan yang menggambarkan seorang tahanan perempuan yang ditelanjangi dan diikat seluruh tangan dan kakinya dan kemudian maaf…. dipotong puting payudaranya dengan mempergunakan alat penyatut. Lalu dibagian dadanya dilepas kalajengking dan dibiarkan mengigit si perempuan malang tersebut. Pada ruangan berikutnya kita dapat menyaksikan lukisan seorang tahanan yang direndam dalam bak kayu dengan kedua tangan terikat dan posisi kepala di bawah. Kemudian, ke dalam bak air itu dialirkan listrik. Alat yang digunakan untuk menyiksa sebagaimana yang tergambar dalam lukisan tersebut dipajang pada ruangan yang sama. Di ruangan ini kita juga bisa melihat foto tujuh orang tahanan yang akhirnya dapat selamat (hidup) dari serangkaian siksaan yang berlaku.
Menyaksikan beberapa lukisan terakhir akal sehat saya benar-benar tidak tega. Bahkan beberapa foto dari lukisan-lukisan yang sudah saya ambil akhirnya saya hapus dari kamera digital. Sungguh kejam dan biadab.
Pada ruangan terakhir kita akan menemukan kumpulan tengkorak dan tulang belulang manusia yang disimpan dan dipajang pada rak dan lemari. Itu adalah tengkorak dan tulang belulang yang berasal dari para tahanan yang dibunuh di penjara ini. Usai melihat itu semua, saya berdiam diri sejenak di areal depan gedung, menyeruput air mineral yang saya bawa dan menghirup nafas dalam-dalam supaya udara pengab dan penuh dengan nuansa sadisme yang terhirup dalam paru-paru saya selama menjelajahi empat gedung bekas penjara tersebut tergantikan dengan udara luar yang baru dan bersih.
Sekali lagi, dibutuhkan keberanian tersendiri untuk melihat dan mendengarkan penjelasan serta mengambil ulang foto-foto tentang apa yang terjadi dalam setiap sudut ruangan dari masing-masing gedung bangunan museum bekas penjara S.21 ini.